Tuesday, August 16, 2011

KisahNenekPemungutDaun

Oleh JALALUDDIN RAKHMAT

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Dhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang.

Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. “Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.”
Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.

Sekarang ia sudah meniggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu: “Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah (shalawat Nabi). Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya.”

Kisah hikmah ini saya dengar dari Kiai Madura, D. Zawawi Imran, membuat bulu kuduk saya merinding. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Allah swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Alloh. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasulullah SAW?

SUMBER: Jalaluddin Rakhmat, Rindu Rosul [penerbit rosda-bandung]

Friday, July 22, 2011

Pengisian dalam kleper

Kenapa akhir-akhir ini semua tajuk berubah menjadi tulisan yang tidak dikenali. Adakah berlaku sesuatu pada fontnya atau lain-lain? Perhatikan pada tajuk yg sebelum ini Masjid Dirar menjadi tidak dikenali...
Hanya copy paste yang tidak mengubah tajuk di atas. Bercerita fasal kleper minggu ini hanya 3 hari bekerja untuk mendapatkan isian. Kemudian berehat kerana ketiadaan barang. Satu tempat tak ada frame tingkap - framenya tak siap-siap walaupun telah ditempah sebulan yang lepas kemudian berpindah ke tempat lain malangnya selepas bekerja seminggu atapnya pula tak sampai lagi. Tempahan sudah dibuat tapi barangnya belum sampai. Nak buat macam mana sudah nasib badan. Ada kerja tak ada barang....
Ingatkan nak buat bekal puasa nampaknya terpaksalah berpuasa apabila tiba bulan puasa nanti. Puasa tak lama dah ada 10 hari je lagi. Kleper dah mula kempis macam mana nak buat. Persiapan puasa tentu akan mengempiskan lagi isiannya.
Minggu ni 16 hingga 21 Julai hanya boleh kerja 3 hari je. Selebihnya pergi dan terus balik, pergi dan terus balik , pergi tunggu sekejap dan balik tak ada apa. Minggu depan bagaimana? Belum pasti setakat mana boleh kerja tidak. Agaknya kleper terus kempis untuk minggu ini dan minggu-minggu seterusnya. Bulan Ogos stat dah puasa apakah terpaksa berpuasa juga?
Pengisian kleper penting tapi kalau asyik pergi dan balik aje macam mana nak isi kleper? Atau macam ni tulis je tapi kosong tak ada ape-ape.....

Friday, July 1, 2011

Sahabat

Sahabat –Sahabat Imam al-Mahdi afj.
At Thabari meriwayatkan dari Abil Husein Muhammad bin Harun dari Abi Harun bin Musa bin Ahmad dari Abi Ali Hasan bin Ahmad/Muhammad al Nahrawandi dari Abi Jaafar Muhammad bin Ibrahim bin Abdillah al Qummi al Qattan yang dikenali sebagai Ibn al Kazzaz dari Muhammad bin Ziyad dari Abi Abdillah al Khurasani dari Abil Husein Abdillah bin Hasan al Zuhari dari Abi Hasan Said bin Jinnah dari Mas’ud/Mas’adah bin Shadaqah dari Abu Basyir yang berkata:
“Aku bertanya Imam Jaafar as-Shadiq a.s, “Semoga aku menjadi tebusanmu. Adakah Amirul Mukminin Ali a.s tahu tentang sahabat-sahabat al Qaim serta bilangan mereka?”. Imam a.s menjawab, “Bapaku memberitahuku: “Aku bersumpah demi Allah bahawa Amirul Mukminin Ali a.s mengetahui setiap seorang dari mereka. Beliau as juga mengetahui nama mereka, nama ayah mereka, nama isteri mereka dan nama suku mereka. Beliau as tahu di mana mereka tinggal dan kedudukan mereka.”
Imam Shadiq as melanjutkan, “al-Hasan a.s mengetahui semua yang Amirul Mukminin Ali aas tahu dan pengetahuan al-Hasan a.s ada pada al-Husein as. Ali bin Husein a.s tahu semua yang Husein a.s tahu, dan sesudah itu, semua yang diketahui oleh Ali bin Husein a.s diamanahkan kepada Muhammad bin Ali a.s, dan semua yang Muhammad bin Ali a.s tahu, maka Imam mu (merujuk kepada dirinya) tahu”.
Aku (Abu Basyir) bertanya, “Apakah ini (informasi tentang sahabat al Qaim) tertulis di mana-mana?”
Imam Shadiq a.s menjawab, “Ia tertulis dan disimpan di dalam hati dan tidak akan terlupakan”
Aku berkata, “Semoga aku menjadi tebusanmu. Beritahulah aku akan bilangan mereka, negara mereka dan daerah mereka”.
Imam Shadiq a.s menjawab, “Datanglah pada hari Jumaat sesudah shalat”. Maka aku pun datang pada hari Jumaat.
Imam Shadiq a.s bertanya, “Wahai Abu Basyir! Adakah kamu datang berkenaan persoalan yang kamu tanyakan itu?”
“Semoga aku menjadi tebusanmu, ya” jawabku.
“Kamu tidak akan mampu menghafal ini. Di mana sahabatmu yang menuliskan untukmu?” tanya Imam Shadiq a.s
“Dia sibuk dan aku tidak mahu terlewat untuk ini, maka aku tidak menunggunya” jawabku.
Imam a.s memerintahkan salah seorang yang berada di situ untuk mencatatkan yang berikut :
“Ini adalah apa yang didikte oleh Rasul saaw kepada Amirul Mukminin Ali as untuk ditulis mengenai sahabat-sahabat Al-Mahdi ajf, bilangan mereka yang hilang dari tempat tidur mereka, mereka yang akan menyertainya, dan mereka yang akan bergerak di siang dan malam hari menuju Makkah selepas mendengar seruan pada tahun di man urusan Allah akan menjadi jelas dan nyata. Mereka (sahabat al Mahdi) adalah orang yang mulia dan mereka akan menjadi penguasa dan hakim ke atas manusia (pada saat kezuhuran).
Seorang dari timur T’aazband, beliau adalah askar yang mengembara,dua dari Samaghaan, seorang dari Farghaana, dua dari Tarmod, empat orang dari Daylam, dua orang dari Marwud, duabelas orang dari Merw, sembilan orang dari Beirut, lima orang dari Tous, dua orang dari Qariyat, tiga orang dari Sijistan, duapuluh empat orang dari Taleeqan, lapan orang dari Jabal al Ghar, lapanbelas orang dari Nisyabur, duabelas orang dari Harat, empat orang dari Yousenj, tujuh orang dari Rayy, tujuh/sembilan orang dari Tabaristan, lapanbelas orang dari Qum, dua orang dari Jerusalem, duabelas orang dari Jurjan, tiga orang dari Raqqah, dua orang dari Rafeqa, tiga orang dari Allepo, lima orang dari Salamyah, dua orang dari Damascus, seorang dari Palestin, seorang dari Baalbek, seorang dari Aswan, empat orang dari Fust’aat, dua orang dari Qayrawan, tiga orang dari desa Kirman, dua orang dari Qazwin, empat orang dari Hamadan, seorang dari Muqan, seorang dari Badw, seorang dari Khilaat, tiga orang dari Hayreewan, seorang dari Naswa, empat orang dari Sinjar, seorang dari Qali Qola, seorang dari Sumaysaat, seorang dari Nasybayn, seorang dari Mosul, dua orang dari Bareq, seorang dari Roha’, seorang/dua orang dari Harran, seorang dari Baagha, seorang dari Qabes, dua orang dari Sanaa’, seorang dari Qebah, dua orang dari Tripoli, dua orang dari Qolzom, seorang dari Abhtah, seorang dari Wadil Qura’, seorang dari Khaibar, seorang dari Bada, seorang dari Jaar, empatbelas orang dari Kufah, dua orng dari Madinah, seorang dari Terbedha, seorang dari Hayoun, seorang dari Khutaar, seorang dari T’ahna, seorang dari Bayram, dua orang dari Ahwaz, dua orang dari Persipolis, seorang/dua orang dari Mowaillan, seorang dari Duballah, seorang dari Saida’eel, lapan orang dari Madain, seorang dari Okhbara, dua orang dari Hulwan, tiga orang dari Basra, tujuh orang Ashabul Kahfi, dua orang pedagang berserta hamba mereka yang akan meninggalkan ‘Ana menuju Ant’akla, sebelas dari kalangan orang Islam yang berhijrah ke Barat, dua orang dari Sarandib, empat orang dari Samand, lelaki yang akan hilang dari tempat tidurnya dari Salaahit, seorang dari Shiraz atau Shiraf, dua orang dari She’b, dan mereka adalah yang melarikan diri ke Serdaniya, seorang dari Yakhshoub yang mencari Haq dan akan berada di Seqelliyah, seorang lelaki yang akan meninggalkan kaumnya, dan seorang lelaki yang akan bertelingkah dengan NASIBI menggunakan al Quran dari Sarakhs.
Inilah jumlah mereka yang bilangannya adalah sama dengan jumlah bilangan Ahli Badr (baca: 313 orang). Allah akan mempersatukan mereka dalam satu malam, iaitu pada malam Jumaat di Makkah. Keesokan harinya, mereka semua akan bertemu di Masjidil Haram.
Kemudian mereka akan bertebaran di lorong-lorong Makkah, mencari rumah untuk mereka diami, namun penduduk kota Makkah tidak menyukai mereka dan berasa tidak selesa dengan mereka, karena mereka akan tahu bahawa orang-orang ini tidak datang untuk mengerjakan Haji, Umrah ataupun berniaga.
Maka, penduduk kota Makkah akan saling berbicara, “Orang-orang ini adalah orang asing, kita tidak pernah melihat mereka sebelumnya. Mereka bukanlah dari sesebuah negeri, atau memiliki tunggangan (kenderaan)”.
Ketika penduduk kota Makkah saling berkumpul dan saling berbicara, seorng lelaki dari Bani Makhzum akan muncul dan berkata kepada wali kota Makkah, “Tadi malam aku bermimpi sesuatu yang menakutkan aku dan menjadi punca kekhuatiranku”. Lalu wali kota itu menyuruh lelaki itu bercerita akan mimpinya itu.
Lalu lelaki itu bercerita, “Aku melihat bebola api jatuh dari langit ke atas Kaabah. Ia dipenuhi oleh belalang yang memiliki sayap berwarna hijau. Belalang-belalang itu mula mengelilingi Kaabah seketika. Sesudah itu, ia akan bergerak menuju ke timur dan barat, dan di dalam perjalanannya itu, mereka membakar setiap kota yang dilalui dan menghancurkan setiap istana yang ada…dan aku pun terjaga penuh ketakutan”.
Penduduk Makkah akan berkata kepadanya, “Engkau telah pun melihat orang asing ini, sekarang, marilah kita pergi bertemu dengan Aqra’ dari Bani Tsaqif, agar dia bisa menkwilkan mimpimu itu”. Lalu mereka bertemu dengan Aqra’ dan menceritakan akan mimpi pemuda itu.
Aqra’ akan berkata kepada mereka, “Mimpimu ini bermaksud tentera Allah telah datang ke kotamu dan tidak ada jalan bagimu untuk mengalahkan mereka”.
Lalu, orang yang datang menceritakan padanya akan orang asing yang telah memasuki kota Makkah. Mereka lalu meninggalkan Aqra’ dengan niat untuk menangkap dan menyerang orang-orang asing itu, namun Allah telah mengisikan hati-hati mereka dengan ketakutan (terhadap orang asing itu)
Sesetengah dari penduduk kota Makkah akan berkata pada yang lainnya, “Janganlah kita tergesa-gesa untuk menyerang mereka ini. Mereka masih belum melakukan apa-apa. Berhati-hatilah, mereka mungkin datang dari suku terkuat kita. Marilah kita lihat apakah perbuatan jahat mereka dahulu, lalu memerangi mereka. Sepertinya mereka ke mari untuk melakukan ibadah Haji dan Umrah, dan wajah mereka adalah wajah-wjah orang yang baik. Mereka berada di tanah Haram Allah, dan kita tidak bisa menyakiti mereka sehinggalah mereka melakukan kejahatan”.
Namun lelaki dari Bani Makhzum, yang merupakan ketua mereka berkata, ‘Kita tidak berasa aman dari mereka. Mereka mungkin sedang menunggu bantuan tiba, dan apabila mereka bersatu, mereka akan mempamerkan kejahatan mereka. Oleh itu, bangkitlah menentang mereka ketika mereka kecil dalam bilangan, dan ketika mereka masih asing di bumi ini. Ketahuilah, mereka tidak datang ke sini tanpa tujuan, dan segera, mereka akan menjadi bagian dari satu acara besar. Aku yakin bahawa penjelasan akan mimpi itu adalah benar. Maka bersiaplah untuk memerangi mereka ketika memerangi mereka itu masih boleh”.
Lalu seorang lelaki lain berdiri dan berkata, “Andai mereka yang lain itu, yang akan menyertai mereka, adalah seperti mereka juga, maka tidak ada apa yang perlu kita risaukan, karena mereka tidak bersenjata maupun berkenderaan, maupun benteng untuk mereka mendapatkan perlindungan, tambahan pula, mereka dikepung oleh kita. Oleh itu, kita harus menunggu hingga mereka mengambil tindakan terlebih dahulu, atau hingga pasukan bantuan mereka tiba untuk membantu mereka, maka, pada saat itu, kita akan memusnahkan mereka”.
Penduduk kota Makkah akan meneruskan perbincangan ini hingga tibanya waktu malam, ketika Allah menimpakan ke atas mereka rasa kantuk. Dan mereka tidak akan bertemu lagi, hingga terbitnya mentari.
Para sahabat al Qaim ajf akan melayani satu sama lain seperti saudara kandung dari ayah dan ibu yang sama dan mereka senantiasa bersama. Jika mereka meninggalkan satu sama lain pada malam hari, pasti mereka akan berkumpul kembali pada siang harinya. Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah:
“Maka berlomba-lombalah kamu (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Seungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. [QS Baqarah :148]
Aku (Abu Bashir) bertanya, “Semoga aku menjadi tebusanmu. Apakah akan ada orang-orang yang beriman di muka bumi selain dari sahabat-sahabat al Qaim ajf?”
Imam Shadiq a.s menjawab, “Ya, namun sahabat-sahabat al Qaim ajf adalah mereka yang dengannya al Qaim akan bangkit. Mereka adalah yang terhormat, para hakim, pemerintah dan alim dalam agama. Al Qaim ajf akan menggerakkan tangannya ke perut mereka dan belakang mereka, dan dengan itu, mereka tidak akan melakukan kesilapan ketika mengambil keputusan“.
[al-Mahajjah Fi Ma Nazala Fil Qa'em al-Hujjah]

Friday, June 17, 2011

Kleper

Jumaat lepas (10 Jun 2011) ada kawan yang pelawa untuk bekerja. Saya ikut je sebab memang tak kerja. Dia cakap bangunan TH 5 tingkat je kerjanya cuci bangunan. Sampai tengok bangunan TH tak tinggi mana. Sarapan dulu sebab gi awal . 7:30 pagi dah ada kat sana. Tunggu-tunggu tengok adalah orang datang kemudian sky lift.

Bila tengok skylift hati mula berdebar. Alamak naik skylift ke....lepas tu bermulalah episod yang mendebarkan hati. Pemandu skylift datang dan beritahu ini suis naik ini lawannnya turun, ini suis keluar lawan masuk ini suis bakul....

Tup-tup dah berada di tingkat atas alamak bawahnya sayup je sejuk rasanya dada.... dup dap dup dap .....

begitulah kerana nak memenuhkan kleper kalau tidak kosong kleper saya...

Friday, May 20, 2011

मस्जिद Dirar

Didirikan oleh Kaum Banu Ghanam bin Auf atas hasutan Abu Amir ar-Rahi seorang Pendeta Yahudi. Seramai 12 orang terlibat dengan pembinaannya iaitu Khizm bin Khalid dari Banu Ubaid bin Zaid. Tha'labah bin Hatib dari Banu Umayyah bin Zaid, Mu'altib bin Qusyair dari Banu Dubai'ah bin Zaid, Abu Habibah bin al-Azar juga dari Banu Dubai'ah bin Zaid, Abbad bin Hunaif dari Banu Amer bin Auf, Aariyah bin Amir, Mujammi' bin Jariyah, Zaid bin Jariyah, Nabtal bin al-Harith dari Banu Dubai'ah, Bakhzaj juga dari banu Dubai'ah, Bijab bin Uthman dari banu Dubai'ah dan Wadi'ah bin Thabit dari Banu Umayyah bin Zaid.

Nabi saw menyuruh menghancur dan membakar masjid Dirar berdasarkan ayat 107 hingga 110 Surah at-Taubah. Sahabat yang terlibat dengan misi ini ialah Malik bin Dkhsyum dan Maan bin Adi ataujuga Asim bin Adi. termasuk juga Wahsy. Mereka membakar antara waktu maghrib dan Isya.

Sunday, May 8, 2011

Peristiwa Hijrah

Bercakap tentang hijrah maka cerita atau kisah peranan sebuah keluarga akan terserlah. Bagaimana seorang itu bersama dengan nabi berhijrah dan mengiringi Nabi dari Mekah, semasa dalam perjalanan, di dalam gua seterusnya sehingga sampai ke Madinah.
Kemudian anak perempuannya yang sedang sarat mengandung membawa bekalan makanan ke gua tempat persembunyian. Berulang alik setiap hari dalam keadaan yang panas terik menghantar makanan kepada bapanya dan Nabi. Mengikat makanan yang dibawa sehingga mendapat gelaran dua ikatan.
Seterusnya anak lelakinya yang kafir menemani bapanya di malam hari di gua tersebut dan balik ke Mekah pada malamnya.
Tidak ketinggalan seorang hambanya yang membawa kambing ke gua tersebut supaya tuannya dan Nabi dapat minum susu kambing segar.

Begitu besar sekali peranan keluarga ini. Mereka mendahului umat dari segi pertama masuk Islam. Menjadi teman Nabi ketika di gua. Menjadi pengikat bekalan Nabi dan seterusnya. Alangkah hebatnya keluarga ini. Mereka wajar dinobatkan sebagai keluarga mithali.

Meneliti kisah tersebut beberapa pertanyaan timbul. Antaranya bukankah Rasulullah saw telah berpesan supaya tiada siapa yang keluar pada malam baginda diperintahkan untuk berhijrah? Tidakkah perintah itu adalah satu kewajipan. Mereka mesti mematuhinya. Kenapa ada yang keluar sehingga Rasulullah terpaksa menjadikannya sahabat di perjalanan. Atau ianya tidak termasuk keengkaran kepada Rasulullah? Kalau orang itu maka tidak menjadi dosa atau maksiat. Kalau orang lain ianya dikira berdosa.

Perjalanan Rasulullah sendiri dalam keadaan sulit dan rahsia. Bagaimana si pembawa bekalan makanan dapat mengetahui lokasinya secara tepat? Sedangkan pengesan jejak dan kafir Quraish tidak menjumpainya. Hebat sekali perempuan ini walaupun dalam keadaan mengandung tetapi berjaya sampai ke tempat persembunyian bapanya. Menghantar bekalan makanan kepada bapanya. Keadaan dalam perjalanan yang payah tidak menjadi kesulitan kepadanya . Ia dapat sampai ke gua tersebut dengan selamat dan bersendirian. Hebat dan benar-benar hebat. Di katakan lokasi gua tersebut bagi orang biasa pun agak sulit untuk didaki tetapi bagi seorang perempuan yang mengandung ianya begitu mudah dan senang.

Kemudiannya peranan anaknya yang masih kafir menemani bapanya di malam hari.Setiap malam bersusah payah ke gua tersebut untuk menemani bapanya dan menyampaikan maklumat tentang pergerakan orang Quraish kepada bapanya. Sehinggalah bapanya terselamat dari kejaran Quraish Mekah apabila keluar dari gua tersebut menuju ke Madinah. Begitu juga peranan Amir bin Fuwairah yang membawa kambing....

Kalau sekiranya begitulah kisahnya, maka kenapa bapanya begitu takut apabila orang Quraish berada berdekatan dengan gua tersebut sehingga terpaksa ditenangkan oleh Rasulullah dengan ungkapan Allah maana. Kalau begitu kenapa Rasulullah terpaksa mencari sebuah gua yang agak jauh lokasinya dari perjalanan ke Madinah?.... dan seterusnya. Wallahu a'lam.

Sunday, April 24, 2011

Senarai Nama Orang Mekah

Senarai nama orang yang diarahkan supaya dibunuh oleh Rasulullah s.a.w semasa Fath al-Makkah
i. Miqyas bin Subaba
ii. Ibnu Khatal
iii. Abdullah ibn Abu Sarh
iv. al-Huwayrith bin Nufayl
v. 2 orang penyanyi

9 orang yang bersama Rasulullah s.a.w pada Hari Hunain
i. al-Abbas (kanan)
ii. al-Fadl (kiri)
iii. Abu Sufyan bin al-Harith
iv. Saidina Ali bin Abi Talib
v. Naufal bin al-Harith
vi. Rabi’ah bin al-Harith
vii. Abdullah bin az-Zubair bin Abd Mutalib
viii. Utbah bin Abu Lahab
ix. Ma’tib bin Abu Lahab
x. Ayman bin Umm Ayman (syahid)